Aku Mengagumimu karena –NYA Part I

by Nadya Anggraini

images (3)

Barkallah, janur kuning melengkung menandakan adanya kehidupan baru untuk sepasang insan muda. Seorang pria yang telah menemukan tulang rusuk hidupnya. Kicauan burung menambah nuansa bahagia bagi sahabatku pupud. Karena hari ini dia dipersunting seorang laki-laki yang mengucapkan janji suci untuk menjadi imam hidupnya. Senyum bahagia terpancar dari pasangan itu. Nampaknya mereka begitu bahagia karena menjadi sepasang raja dan ratu untuk hari itu.

Pupud adalah sahabatku sejak smp. Kami begitu akrab meskipun sma nya kami tidak bersekolah di sekolah yang sama tapi keakraban kami begitu melekat hingga sekarang. Aku sangat menyayangi sahabaatku itu. Hari ini adalah hari bersejarah baginya dan aku juga turut bahagia akan hal ini. Dia dipersunting oleh laki-laki tampan, pintar, soleh dan berwibawa. Laki-laki  itu bukanlah orang asing bagi ku. Willi, sejak kecil aku sudah mengenali nya.

“Selamat menempuh hidup baru pud, kamu lebih dulu berkeluarga. Jadi istri yang baik untuk suami mu. Aku sangat bahagia melihatmu bahagia” ucapku kepada pupud.

Perasaanku bercampur aduk, aku merasa sangat senang dan juga sangat sedih. Sambil memeluk sahabatku, aku menangis terharu begitu pula dia.

Setelah menyalami pengantin wanita, aku menyalami pengantin laki-laki. “selamat menempuh hidup baru sobat. Jaga sahabat ku baik-baik. Seutuh tanggung  jawabmu untuknya. Semoga kalian jadi keluarga yang  sakinah mawadah warahma. “ ucap ku pada Willi. Senyum yang tetap melekat wajahnya tek pernah berubah sejak kecil aku mengenalya.

Hatiku terasa berdenyut perih namun sebisa mungkin aku mencobaa menutupinya dengan senyuman ku. Setelah memberikan selamat kepada kedua memepelai. Memori otak ku berputar ke masa lalu.

Waktu itu umurku sekitar sepuluh tahun. Ani teman dekat rumahku mengajak ku kerumah sepupu laki-lakinya. Di situlah pertama kali aku bertemu dengan Willi. Willi  terlihat lucu, tampan dan bersih. Seharian dirumah willi, keakraban mulai terjalin diantara kami. Willi termasuk orang yang ramah. Umurnya satu tahun lebih tua dari ku. Aku mulai mengaguminya.

Ani dan Willi bersekolah di sekolah yang sama, sedangkan aku di sekolah yang berbeda.

Aku berpikir mungkin hari itu adalah hari pertama dan terakhirku bertemu dengan Willi karena sejak itu Ani sudah jarang ke rumah Willi lagi dan jika pun dia kerumah Willi, dia tidak pergi bersamaku.

Satu tahun berlalu, aku tidak pernah bertemu Willi lagi.

Sore hari yang sejuk, aku sedang bermain dengan  Ani  dan Nafa di tanah lapang. Tiba-tiba , tak ku sangka seorang  laki-laki kecil menghampiri Ani. Dia adalah Willi. Dia berencana untuk menginap  beberapa minggu di rumah Ani. Aku masih sangat mengenalinya dan aku sangat senang karena aku bisa bertemu lagi dengan orang yang aku kagumi. Tapi aku merasa kecewa karena  Willi tidak terlalu mengenalku lagi. Nafa dan aku berkenalan dengannya. Aku juga berlaga seperti baru pertama kenal dengannya.

Sepulang dari tanah lapang , Nafa terlihat begitu senang. Rupanya Nafa menyukai Willi. Nafa termasuk cewek yang berani. Tidak sepertiku. Dia  mengungkapkan perasaannya itu ke Willi. Dan beruntungnya Willi juga mnyukai Nafa. Cinta monyet mereka begitu indah. aku senang karena Nafa sahabatku terlihat begitu senang.

Sore berikutnya Ani, Willi, Didi, Ilham dan Nafa bermain di tanah lapang sepeti biasa. Aku dan sepupuku Septy menghampiri mereka. Aku mengenalkan Septy ke teman-temanku.

“ayo kita main nikah-nikahan. Kan orangnya udah banyak.” Ajak Nafa. “Ayo” sahut Ani “Yang jadi pengantinnya kalian berdua ya! Kamu sama Willi jadi pengantinnya , Didi jadi penghulunya dan sisa nya jadi tamu undangan, setuju?”

“iya, aku setuju” sahut Willi

“Aku juga setuju” sahut ku dengan gembira sambil mentupi kecemburuanku

Willi memasangkan cincin yang terbuat dari daun dan di hiasi dengan bunga-bunga kecil ke jari manis Nafa, aku dan yang lain bersorak dan bertepuk tangan.

Sepulang dari tanah lapang, “Ge, temanmu Willi cakep ya. Lucu.” Puji septy.

Aku hanya membalasnya dengan senyum.

Tiap hari kami bertujuh selalu bemain di tanah lapang. Kata Ani, Willi dan Nafa sudah berpacaran. Mendengarkan hal itu sepupuku Septy merasa sedih. Dia pergi menyendiri. Pohon jambu adalah tempat kami menyendiri termasuk sepupuku. Kalau ada yang lagi sedih diantara kami bertujuh pasti larinya ke atas pohon Jambu. Aku membiarkan Septy menyendiri. Aku lihat di mengukir-ukir sesuatu. Setelah semua bubar. Aku naik kepohon jambu. Aku melihat beberapa ukiran di atas phon jambu. Aku memang jarang kesini. Ternyata ada ukiran berlambangkan hati dan di dalamnya bertuliskan  Nama Nafa dan Willi yang sudah di coret-coret. Ada juga yang berlambangkan hati bertuliskan Septy dan Willi. Aku merasa sedih karena kedua teman dekat menyukai orang yang sama, orang yang aku juga sukai bahkan lebih dulu dari mereka. Ada juga nama kami bertujuh terukir di pohon jambu itu.

Septy dan Willi sering surat-suratan karena sepertinya Willi juga menyukai sepupuku itu. Aku tidak bisa mendukung siapa-siapa. Saat Nafa bersama Willi, sepupuku Septy cemburu dan curhat kepadaku. Begitupun sebaliknya saat Willi bersama Septy, Nafa curhat kepada ku.

Melupakan persahabatan kami, kini Willi sudah jarang sekali masuk di kehidupan kami berenam. Waktu berlalu dan pershabatan kami mulai merenggang. Kami semakin jauh. Kami tidak pernah lagi main bersama. Aku juga semakin jauh dengan Willi. Willi, Ani, Didi dan Ilham di satu SD yang sama. Nafa dan Septy di satu SD yang sama dan aku sendiri di SD yang berbeda.

Suatu ketika ada acara penyuluhan Dokter Kecil. Kami sebagai Dokter Kecil mewakili sekolah kami masing-masing. Tidak sengaja kami bertujuh bertemu lagi. Willi terlihat begitu tampan dengan pakaian dokternya. Aku datang bersama Vivin teman dekat ku di sekolah. Aku mengenalkannya dengan teman-temanku. Singkat ceita Vivin juga mengagumi Willi. Sepertinya Vivin sangat tergila-gila dengan Willi. Tidak aku ketahui ternyata setelah pertemuan Vivin dan Willi itu mereka berdua sering surat-suratan. Disitu aku mulai membenci Willi, kenapa semua teman dekat ku menyukainya. Aku sebenarnya ingin menangis. Kenapa orang yang baru mengenal Willi muda sekali  untuk dekat dengannya. Sedangkan kepadaku Willi bersikap begitu cuek.

“Aku benci Willi” teriak ku dari atap rumah.

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s