Aku Mengagumimu karena –NYA Part II

by Nadya Anggraini

images (2)

Di SD, aku berteman dekat dengan Vivin dan Yuni. Kami bertiga ikut tes masukan  SMP unggulan. Tapi sayang kami bertiga harus berpisah karena hanya aku yang lulus . Vivin dan Yuni bersekolah di SMP biasa. Ternyata mereka berdua masuk di SMP yang sama dengan SMP Willi. Meskipun sudah jauh aku tetap menyimpan Willi di hatiku.

Sekarang kami sudah bukan anak kecil lagi. Sudah menginjak masa remaja. Duniaku ya dunia ku. Willi juga sudah menemukan dunia barunya dan sudah melupakan pertemanan singkat kami.

Tiga tahun berlalu. Willi sudah duduk di kelas 3 semester akhir. Dan aku masih kelas 2, satu tahun lebih kecil darinya.

Libur tujuh belasan Yuni mengajakku ikut acara jalan santai. Sebelumnya Yuni berjanji mau mengenalkan pacarnya kepada  ku. Sangat jauh dari dugaan ku ternyata Willi adalah pacarnya. Hati ku seakan hancur dan aku ingin menangis di tempat. Aku berusaha menutupinnya dan tersenyum. Hal yang tambah membuatku kecewa adalah saat Willi tidak mengenaliku lagi. Dia begitu kaku. Dia menanggapku orang asing baginya. Sikap Willi kepada ku itu mengubah pandangan ku. Awalnya aku mau  bersikap ramah dengannya tapi mendadak sikap ku menjadi cuek kepadanya. Aku juga berpura-pura seperti baru mengenalnya. Yuni memang tidak tahu kalau aku pernah mengenal Willi.

Aku tertawa di dalam hati. Willi hanyalah cinta monyet ku. Aku juga tidak  pantas punya perasaan cemburu terhadap sahabatku sendiri.

3 tahun berlalau . aku sekarang duduk di kelas 2 sma. Masuk SMA, aku semakin jauh dengan teman-teman kecilku. Aku mendapatkan beasiswa SMA di luar kota. Pulang ke kampung halaman begitu jarang. Saat dirumah teman dekat ku adalah Susi atau aku memanggilnya dengan sebutan ucil. Tetangga baru pindahan dari luar kota. Susi bersekolah di SMA N 3.

Mudik hari raya, aku bingung harus bersilaturahmi dengan siapa karena teman ku di kampung tidak banyak. Hari kedua lebaran Ucil dan Septy sepupuku  mengajak ku berkunjung ke rumah-rumah teman mereka. “Gea, ayo  ikut. Ada Willi. Kakak udah lama gak ketemu Willi.” Ajak Septy.

Aku sedikit ternganga dengan ajakan sepupuku itu. “kenapa harus ada Willi. Aku sedang belajar untuk membuang nama itu jauh-jauh dari pikran ku. Aku benci karena setiap kali bertemu dia selalu menganggap ku orang asing baginya. Andai saja dia tahu tentang perasaanku. Aku terlalu sakit memendam rasa ini sejak aku kecil” ucap ku dalam hati “Willi memang cinta monyet ku. Tidak ada orang yang tau kalau aku sangat menyayanginya. Cukup lelah aku memendam perasaan ini dan kini aku harus bertemu lagi dengannya. Aku tak tau bagaimana reaksi Willi saat bertemu dengan ku nantinya. Namun pertanyaan itu sudah bisa aku jawab sendiri. Willi akan menganggapku sebagai orang asing.”

“memang nya Ucil kenal dengan Willi?” tanyaku ragu.

“Iya, mereka satu sekolah bahkan satu kelas” jawab sepupuku.

Bertemu dengan Willi tidak asing lagi bagiku. Namun kucoba untuk menganggap nya orang asing bagiku.

Ternyata dugaanku benar. Willi sama sekali dengan diriku. Setelah Dia bersalaman dengan Susi dan teman-teman yang lain “aduh siapa itu yang dibelakang. Temanmu si? Kok gak di kenalin.” Oceh Willi.

“Willi.” Sapa nya.

“Gea.” Balasku.

Senyum diwajahnya tidak berubah. Salah satu hal yang sangat ku kagumi darinya. Willi memang punya kharisma tidak bisa di pungkiri kalau cewek banyak mengaguminya. Willi yang dulu dan Willi yang sekarang tidak jauh berubah hanya saja sekarang ia terlihat lebih dewasa.

Sikap dingin diantara kami berdua terlihat begitu jelas. “kenapa sih banyak cewek senang kepadanya? Cakep? Ya may be. But he is just a bad boy with his arrogance. He never knows other people’s  feeling. He just know if many girls like him and he never love them seriously. Nown we have been adult, i was so stupid. I had loved him. He is just my first love that only me and God the one who know about my feeling for him. And now, i throwed that feeling away, as far as i can.” Gumal ku.

Ternyata Willi dan Ucil sedang PDKT an. Ucil memang terlihat malu-malu tidak seperti cewek-cewek yang dekat dengan Willi sebelumnya. Mereka di paksa oleh teman-teman yang lain untuk berboncengan. Aku juga ikut-ikutan menyoraki mereka. Candaan Willi dan Ucil terlihat sangat akrab.

“kenapa cewek yang dekat dengan Willi selalu teman baik ku? Dari kecil.” Ratap ku.

Jangankan menghrap keakraban, saling sapa pun tidak terjalin antara aku dan Willi. Aku terlaihat sangat asing baginya. Sikap dinginnya terhadapku tidak pernah berubah.

Beberapa hari setelah itu. Terdengar kabar kalau Ucil dan Willi jadian. Aku mendukung mereka namun hati kecilku tidak mengizinkan hal itu.

“Gea, gimana pendapat kamu mengenai Ucil dan Willi?” tanya Septy.

“Aku sangat setuju kak. Karena meskipun aku baru satu tahun terakhir ini kenal dekat dengan Ucil tapi aku tahu persis kalau Ucil itu susah banget di dapetin hatinya. Udah banyak cowok yang mau jadi pacarnya tapi baru kali ini Ucil nerima. Aku turut senang kalau mereka berdua senang.” Ungkap ku.

“kakak juga sependapat dengan mu. Ya meskipun kakak pernah senang dengan Willi dulu. Tapi itu kan masa kecil. Belum ngerti apa-apa. Dan lagi itu hanya cinta monyet. Kakak juga udah dari lama neglupain Willi. Kakak senang Willi jadian dengan Ucil. Tapi kakak sedih, karena teman kakak Amoi sedih. Dia suka banget sama Willi. Kakak aja takut cerita ke Amoi kalau kakak sering sms an dengan Willi.” Ceritanya.

Aku hanya tersenyum dan berkata dalam hati “kamu sudah bisa melupakan Willi tapi aku belum. Aku minta maaf karena aku sudah membohongi perasaanku sendiri. Amoi yang baru mengenal Willi saja cemburu. Bagaimana dengan perasaanku. Apa? kamu smsan sama Willi? Kamu takut Amoi cemburu. Tapi tanpa kamu sadari. Kamu telah menyakiti hati adik mu sendiri. Rasanya aku ingin menangis tapi hal itu tidak harus aku lakukan karena ini salah ku sendiri telah mencintai orang yang salah.”

Tahun berganti tahun. Waktu semakin cepat berlalu. Aku sekarang sudah kuliah semester 6. Aku semakin dewasa. Hingga sekarang aku tidak pernah pacaran. Aku berjanji untuk melakukan ta’arufan sebelum menikah. Sambil mengejar cita-cita ku aku juga belajar melupakan cinta masa kcilku.

Tiap malam aku berdo’a kapada Allah meminta diberikan jodoh yang terbaik untuk hidupku. Aku juga meminta dimudahkan jalan untuk melupakan cinta masa kecilku. Kalau memang Willi tidak berjodoh denganku jauhkanlah aku dengannya. Aku mengagumi Willi karena aku tahu Allah yang memberikan perasaan ini dan Allah lah yang Maha mengetahui segalanya. Aku pun berserah kepada-Nya.

3 tahun aku hidup di Bandung bersama sahabatku Putri.Kami adalah mahasiswa UNPAD. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Pupud. Pupud adalah sahabatku dari SMP. Di mengambil jurusan Ilmu Matematika dan aku mengambil jurusan Fakultas Kedokteran Hewan. Kami berdua tinggal di kontrakan yang sama, mudik ke palembang pun selalu bersama. Pupud banyak mengajariku arti kemandirian. dia selalu ada di saat aku merindukan orangtua ku. Begitu sebaliknya aku sering berbagi ilmu agama kepadanya. Aku dan pupud sudah seperti saudara sendiri. Dia sering menceritakan pacarnya kepada ku. Laki-laki itu sangat beruntung karena bisa kenal dengan Pupud. laki-laki itu adalah pacar pertama Pupud dan mungkin akan jadi pacar terakhir juga untuknya. Pupud sangat mencintai laki-laki itu.

Kata Pupud laki-laki itu satu tingkat lebih tinggi dari kami. Dia termasuk mahasiswa yang terkenal di ITB. Laki-laki itu soleh, pintar dan cakep. Sangat ideal dengan pupud yang cantik dan baik. Dia begitu mengerti Pupud. Dunia ini begitu sempit, ternyata laki-laki yang Pupud ceritakan selama ini adalah Willi , teman kecil ku. Cinta monyet yang sangat susah aku lupakan.

Willi dan Pupud begitu serasi. Sudah 3 tahun mereka berpacaran dan baru kali ini hubungan Willi awet hingga bertahun-tahun. Setelah lulus kuliah mereka berencana menikah karena selepas kuliah Willi langsung bekerja di salah satu perusahaan tehnik terkenal di Indonesia.

Tak banyak yang dapat aku ungkapkan mengenai perasaanku. Aku begitu bangga melihat kedua orang yang aku sayang bersatu. Tapi disi lain aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Hati kecil ku tetap saja membantah niatku untuk tetap tersenyum. Willi selalu menanyakan kabar Pupud setiap kali kami bertemu. Dia selalu minta bantuan ku untuk membuat Pupud bahagia. Aku dengan bahagia menyatukan mereka. Aku bahagia melihat kedua teman ku bahagia.

Aku memang tidak di takdirkan dengan Willi. Aku menyayangi Willi hanya sebatas teman tidak akan lebih dari itu. Sampai akhirnya Willi menikah dengan Pupud. Willi  tidak pernah tau tentang perasaanku. Bahkan Willi menjodohkan ku dengan sepupu nya Imam.

Hal yang sangat lucu jika aku memutar memori ka masa lalu. Sekarang Willi dan Pupud hidup bahagia dan aku sedang Ta’arufan dengan Imam. Mungkin Imam lah jodohku yang di takdirkan Allah. Aku mencoba mencintai Imam seperti aku mencintai Willi.

Menjadi pengagum rahasia itu mnyenangkan meskipun sedikit menyakitkan. Aku sangat bersyuk ur kepada Allah karena telah menganugerahkan ku cinta yang begitu suci. Aku tidak pernah menyesal mencintai Willi. Meskipun pada akhirnya Willi bukanlah jodoh hidupku. Rahasia aku dan Tuhan mengenai perasaanku akan tetap ku jaga sampai tiba waktunya. Aku belajar mencintai hamba-Nya yang lain. Yang telah Allah berikan kepadaku. Imam lebih pantas dengan ku. Karena aku tau, pilihan Allah adalah pilihan terbaik untuk hamba-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s