Satu dari separuh part 1

by Nadya Anggraini

cincin

Matahari pagi menyambut hari Najwa dan membangunkannya dari istirahat malam yang indah. Terhitung tepat 7 hari ia hidup tanpa belaian seorang ibu . Seorang ibu yang biasa membimbingnya sekarang telah menghadap sang pencipta. Bunda adalah panggilannya kepada sang ibu. Bunda yang biasa membangukan pagi nya dengan ciuman lembut. Bunda yang selalu bawel saat najwa bangun kesiangan, bunda yang setiap pagi bingung memikirkan sarapan apa yang tepat untuk najwa dan ayah, bunda yang selalu memeriksa keperluan sekolah Najwa supaya tidak ada yang ketinggalan dan bunda lah yang selalu tersenyum sambil melambaikan tangannya saat mengantar Najwa dan ayah pamit dari rumah. Namun pagi ini terasa asing bagi Najwa. Tidak seperti biasanya,tidak ada lagi bunda bersamanya. Hanya ada daster kesayangan yang bisa bunda pakai tergantung di ruang tengah. Sarapan nasi goreng menemani pagi Najwa besama ayah. Nasi goreng itu terasa lezat tapi tidak bisa menandingi lezatnya nasi goreng bunda. Najwa bersiap-siap untuk pergi kesekolah dan ayah akan memulai aktivitas kantornya seperti biasa. Ayah Najwa adalah seorang pegusaha muda yang sukses. Meskipun sibuk tapi najwa tidak pernah haus akan kasih sayang seorang ayah. Ayah selalu punya waktu untuk anak semata wayangnya itu. Najwa adalah gadis kecil berjilbab yang duduk di kelas 6 SD. Dengan nama lengkap Aqilah Najwa Habibie. Cantik, pintar dan rajin shalat adalah kepribadian yang sempurna untuk anak seumuranya. Keluarga yang hangat di selimuti  kasih sayang serta orangtua yang selalu akur melengkapi hidupnya. Namun sayang, itu adalah kehidupan Najwa yang dulu. Kebahagian itu sirna sejak sang bunda tidak lagi bersama mereka. Bunda pergi karena kanker rahim yang merenggut nyawanya. Kepergian bunda adalah hal yang paling menyakitkan bagi Najwa. Tapi kata ayah bunda pasti sedih disana kalau melihat Najwa selalu menangisi kepergian bunda. Dengan hal itu, Najwa mencoba untuk tegar dan kembali ceria karena dia tidak mau bunda sedih disana.

Siang hari saat pulang sekolah, ayah siap dengan mobil didepan pagar sekolah untuk menjemput putri kecilnya. Di kejauhan Najwa berlari dengan ceria menhampiri ayahnya. Najwa langsung sujud ke tangan ayah dan ayah membalasa dengan kecupan lembut kekening mungil Najwa. Di mobil, Najwa :  Ayah, bunda gimana kabarnya disana ya? Bunda lagi ngapain ya yah? Bunda sehat kan?

Ayah : iya sayang bunda baik-baik saja disana, bunda sehat dan sepertinya bunda lagi tersenyum merhatiin kamu karena kamu jadi anak yang pintar dan ceria.

Najwa : Tapi Najwa kangen banget sama bunda, yah. Kenapa sih bunda pergi? Najwa nakal ya? Najwa kesepian tanpa bunda. Gak ada yang ngedongengin Najwa sebelum tidur lagi. Gak ada yang masakin nasi goreng spesial untuk kita lagi. Dan rumah sepi tanpa omelan bunda

Ayah : Bunda memang gak ada di sini tapi bunda tetap ada di hati kita. Najwa jangan ngomong seperti itu. Najwa gak nakal, bunda pergi karena bunda harus ketemu sama Allah. Allah lebih sayang sama bunda

Najwa : Ayah, Najwa janji gak bakalan buat bunda kesal lagi, Najwa janji gak nakal lagi, Najwa janji gak ceroboh lagi, Najwa janji yah, asal bunda bisa sama-sama kita lagi

Ayah : Tapi itu gak bisa sayang, Allah lebih butuh sama bunda

Najwa : Kenapa yah ? (menangis)

Seketika itu juga hati ayah kaku karena sejak bunda pergi baru kali ini Najwa meneteskan air matanya apalagi sampai menangis tersedu-sedu. Ayah segera memeluknya dan menghiburnya.

Ayah : Najwa jangan nangis. Kita akan ketemu bunda tapi nanti. Kita akan ketemu bunda di surga. Tapi Najwa janji sama ayah kalau mau ketemu bunda di surga Najwa harus rajin shalat dan do’ain bunda disana.

Najwa : Ayah bener ? gak bohong ?

Ayah : iya sayang, kita sama-sama akan ketemu bunda kalau udah waktunya nanti.

5 tahun berlalu Najwa tumbuh jadi remaja soleha, cantik dan pintar. Najwa selalu menjadi juara umum dengan prestasi yang gemilang. Ayah sangat bangga kepada Najwa. Single parent adalah amanah terbesar bagi ayahnya, menjadi ayah sekaligus ibu untuknya. Ayah adalah manusia terhebat untuk hidupnya. Kasih sayang sebagaimana dari seorang ibu memang sudah sangat lama Najwa an rindukan namun Najwa bersyukur karena punya ayah yang juga bisa jadi bunda untuknya.

Tiga hari setelah pengumuman kelulusan, Najwa mendapat surat undangan PTN Gajah Mada Fakultas Kedokter hewan. Ia berhasil lulus tanpa tes dan mendapatkan beasiswa penuh untuk 6 semester.

Di perguruan tinggi Najwa bertemu dengan cintanya. Dia tahu kalau itu adalah zina qalbu yang sangat sulit ia hindari. Lelaki tampan dan tampak soleh itu berhasil menarik perhatiannya. Itu bukanlah pertama kalinya mereka bertemu. Tetapi lelaki itu adalah teman masa kecil Najwa yang sudah lama tidak bertemu karena dia pindah ke singapura. Lelaki itu bernama M.Imam Fatir Assiddiq atau Najwa biasa memanggilnya abang atir. Fatir juga berkuliah di UGM dengan jurusan Matematika. Bisa dikatakan Fatir adalah cinta pertamanya Najwa karena selain Fatir Najwa selalu menjaga hatinya untuk tidak mengagumi laki-laki lain.

JJJJJ

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s