Satu dari separuh part 2 # gadis kecilku ( FATIR )

by Nadya Anggraaini

7

Najwa adalah teman kecil Fatir. Fatir biasa memanggilnya dengan sebutan Ajwa. Sekarang ia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan soleha serta cerdas akhlak, prestasi dan iman nya. Kekaguman Fatir kepadaNajwa sejak kecil sampai sekarang memang  tidak pernah berubah. Najwa tetap gadis kecilnya yang selalu ceria. Tapi semenjak  Fatir pindah ke Singapura, mereka seperti kehilangan komunikasi untuk beberapa tahun. Tak di sangka, setelah lulus sekolah mereka kuliah di satu universitas yang sama meskipun Fartir satu tingkat lebih tua dari Najwa. Fatir mengambil jurusan Ilmu Matematika sedangkan Najwa mengambil FK hewan.

Sewaktu kecil banyak hal yang sering mereka lakukan bersama. Fatir sudah menanggap Najwa sebagai adiknya sendiri. Sejak kecil Najwa selalu bersikap manja ke Fatir. Pergi sekolah bersama. Ke tempat ngaji bersama. Orangtua mereka pun sudah kenal akrab satu sama lain karena rumah mereka berdepanan. Najwa kecil selalubawel saat Fatir melakukan hal yang salah.

Ketika bunda Najwa meninggal dunia, bukan hanya Najwa yang terpukul tetapi juga Fatir. Karena Fatir telah menganggap bunda Najwa seperti ibu kandungnya sendiri. Begitu juga Ibunya Fatir telah menganggap Najwa seperti anaknya sendiri. Malam pertama setelah bunda Najwa ditempatkan di rumah terakhirnya, Fatir menghabiskan waktunya untuk menemani Najwa. Di ayunan belakang rumah mereka bercerita. Ibu Fatir dan ayah Najwa memang membiarkan mereka berdua. Najwa menceritakan semua isi hatinya kepada Fatir. Najwa menangis tersedu-sedu dan coba menghibur. Dua anak kecil itu seolah seperti orang dewasa yang telah mengerti arti kehilangan.

Najwa : Abang, kenapa bunda ninggalin Ajwa ya? Padahal Ajwa sayang banget sama bunda. Najwa nakal ya bang?

Fatir : kamu gak nakal. Kata ibuku, Bunda kamu pergi karena Allah yang memanggilnya dan Allah sayang banget sama bundamu.

Najwa : Ajwa sedih bang. (menangis sambil memeluk Fatir). Abang, janji ya jangan cerita siapa-siapa kalau Ajwa nangis. Najwa gak mau liat ayah sedih gara-gara Najwa nangisin kepergian bunda.

Fatir : Iya dek, Abang janji tapi kamu jangan nangis lagi ya, ntar imutnya ilang.

Najwa : Abang jangan ninggalin Ajwa juga ya. Janji

Fatir : Insya Allah

Ketika Najwa memeluk Fatir, Fatir merasakan ada hal yang aneh pada dirinya. Dia merasa sangat nyaman. Mendengar Najwa menangis hatinya seperti mau hancur. Fatir mencoba menyadari kalau rasa itu adalah hal yang biasa antara kakak dan adik. Disisi lain Fatir juga meragukan kalau itu adalah rasa yang biasa. Fatir merasa kalau dia menyayangi Najwa bukan hanya sebagai adik tapi lebih dari itu.

Najwa adalah cinta pertama Fatir. Fatir mencoba selalu mnghindari rasa itu karena kata ibu pacaran itu dilarang Allah, karena itu salah satu hal yang mendekati zina. Karena pacaran itu  biasanya dilengkapi dengan zina mata dan zina qalbu. Kata ibu menyukai lawan jenis lebih dari saudara itu artinya zina qalbu dan Fatir tidak mau zina qalbu jadi dia hanya memendam rasa itu sedalam mungkin.

Sejak kepergian bunda, Najwa memang tidak pernah menangis didepan ayah kecuali didalam mobil saat pulang sekolah. Tetapi itu hanya sepengetahuan ayah.

Satu tahun setelah bunda Najwa pergi, Najwa masuk smp. Dia mendaftar di SMP Islam Terpadu dan disana juga Fatir bersekolah. Mereka tidak satu tingkatan yang sama karena Fatir satu tahun lebih tua dari Najwa.

Singkat cerita, ayah Fatir di tugaskan keluar negeri karena urusan kantor dalam jangka waktu lama. Hal ini memaksa ayah Fatir membawa keluarganya pindah keluar negeri tidak terkecuali Fatir. Tentunya Fatir harus pindah sekolah dan mengurus segala sesuatunya. Tidak diherankan ayah Fatir membawa serta Fatir pindah keluar negeri karena tugas itu terhitung lama dan tidak tahu kapan selesainya dan juga Fatir adalah anak semata wayang orangtuanya.

Fatir merasa bersalah. Dia merasa berat untuk meninggalkan Najwa. Janjinya untuk selalu menemani Najwa terpaksa ia hianati karena dia tidak mungkin melawan ayahnya lagi pula ayah mengajaknya pergi karena tugas bukan dari kemaun ayahnya sendiri

Pagi hari sebelum berangkat Fatir berpamitan kepada Najwa. Seperti biasa, mereka duduk di ayunan belakang rumah Najwa.

Najwa : abang jadi pindah ke singapura hari ini?

Fatir : Insya Allah

Najwa : jam berapa terbangnya? Semua keperluan sudah siap?

Fatir : Insya Allah sore nanti sekitar jam 5 dan semua keperluan sudah siap. Najwa, abang mau minta maaf karena abang tidak bisa nepatin janji abang ke Najwa. Abang gak tau kapan tepatnya abang bisa pulang lagi kesini.

Najwa : Gak apa-apa bang. Najwa ngerti. Lagian disini Najwa juga gak sendri. Ada ayah, mbo Ija dan pak sukri. Ajwa kan sekarang udah gede, udah smp. Jadi Insya Allah Ajwa bisa hidup mandiri tanpa abang. Ajwa punya teman-teman disekolah. Abang tenang aja gak usah mikirin Ajwa disini yang penting disana abang gak pernah shalat dan bersalawat. Jaga matanya dari dosa karena Abang sekarang udah gede jadi tambah banyak setan-setan yang godai abang. Oh ya, satu lagi Abang tetap pada komitmen kita ya ! Komitmen kita tidak boleh pacaran. Kata abang kita harus Ta’arufan dengan jodoh kita masing-masing nantinya dan janji bakalan pulang kesini lagi.

Fatir : siap bos ! insya Allah abang akan ngelakuin seperti apa yang Ajwa pesan ke abang. Ajwa disini gak usah ngerasa kespian ya. Jaga diri baik-baik. Jangan pernah lupa sama Allah. Patuh-patuh sama aturan ayahmu.

Najwa hanya membalasnya dengan senyum manis.

Sebenarnya Fatir ingin sekali memeluk Najwa, tapi Fatir tetap ingat kalau Najwa dan dia bukan muhrim meskipun dia sudah menaggap Najwa sebagai adiknya sendiri. Fatir sama sekali tidak melihat Najwa menangis atau memasang wajah sedih. Meskipun itu Fatir tau persis apa yang Najwa rasakan sekarang. Hal itulah yang membuat Fatir tambah mengagumi Najwa. Selalu ceria dan tidak pernah menunjukkan kesedihannya kepada orang lain.

Fatir sudah siap-siap untuk berangkat dan Najwa siap mengantarkan Fatir, om dan tante nya pergi meski hanya sebatas depan rumah saja. Orangtua Fatir sudah pamitn ke ayah Najwa dan segala keperluan serta segala administrasi sudah siap. Sebelum naik mobil, Fatir memberikan kado ke Najwa. Kado yang berukuran jumbo dan tak tau apa isinya.

Setiba Fatir di Singapura, dia dan ayahnya segera mengurus administrasi sekolahnya. Beberapa bulan Fatir di Singapuran dia merasa kangen dengan Najwa. Suasana disana terasa sepi tanpa candaan Najwa. Seketika Fatir menyadari kalau ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Tidak bisa Ia pungkiri kalau dia memang benar mencintai Najwa. Sejak kecil Najwa memang selalu bersamanya dan ketika mereka berpisah Fatir merasa tidak sempurna.

Hati kecil Fatir merasa kalau Najwa cinta pertamanya dan Insya Allah akan menjadi cinta terakhirnya. Tapi ini tidak mungkin karena Najwa menanggapnya sebagai kakak, tidak lebih. Apa mungkin mereka berjodoh. Fatir gundah dan terus mencoba untuk membuang rasa itu.

3 tahun berlalu. Fatir lulus dari SMA nya. Dia memilih untuk berkuliah di Indonesia. Tepatnya di Universitas Gajah Mada. Tapi disisi lain Fatir juga di terima di University of Singapoera. Tiap malam Fatir shalat Tahajud dan diselingi shalat istigharah meminta petunjuk Allah.  Didalam do’a Fatir meminta untuk diberikan yang terbaik oleh Allah SWT. 40 malam secara rutin Fatir memanjatkan do’a yang sama. Suatu malam di istirahat malamnya, Fatir bermimpi melihat wajah Najwa yang begitu bersih dan bercahaya sambil tersenyum manis tapi tidak melontarkan satu katapun, kemudian dia pergi dan adzan subuh membangunkan Fatir. Fatir hanya merasa aneh dengan mimpinya semalam dan sepertinya ia mendapatkan petunjuk Allah.

Hari ini Fatir harus menentukan Universitas apa yang harus dia pilih dan pada akhirnya ia memilih Universitas Gajah Mada dengan jurusan Ilmu Matematika. Fatir menganggap datangnya Najwa dalam mimpinya itu menandakan kalau ia harus bertemu dengan Najwa lagi. Tapi Fatir sedikit takut dengan perasaannya kepada Najwa. Perasaan yang sudah lama ingin dia buang. Dia takut kalau bertemu dengan Najwa perasaan itu akan tumbuh lagi.

Hari Pertama Fatir menginjakkan kakinya lagi di Indonesia. Dia tidak merasa canggung, karena Indonesia telah mendarah daging di dirinya. Meskipun ia telah lama tidak ke Indonesia tapi dia masih hapal seluk beluk Indonesia.

Kebetulan ayah Fatir bisa mengusulkan untuk pindah tugas ke Indonesia, jadi Fatir mereka sekeluarga pindah ke Indonesia lagi dan tinggal di Yogyakarta karena dekat dengan UGM dan Perusahaan ayah Fatir.

Fatir memang sudah tinggal di Indonesia tapi Najwa tidak mengetahui hal ini.  Fatir tidak mau mengabarkan Najwa karena ia takut mereka akan bertemu. Jadi Fatir hanya diam dan membiarkan waktu yang menjawab. Karena Fatir sangat takut Najwa akan membuatnya jatuh cinta lagi. Meskipun itu, di hati kecil Fatir mengatakan kalau ia benar-benar merindukan gadis kecilnya itu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s