Kami dan Kalian -Part I

By Nadya Anggraini

tools

 

Di sebuah rumah gedung megah, terlihat lah percakapan antara duit seribu dan seratus ribu.

“Hey, si lecek . Jauh-jauh dari aku. Kamu itu bau, kudel, kotor, dan kusam. Murahan dan pindah tangan dari orang ke orang” hina si seratus ribu kepada si seribu.

“Yayaya, terimakasih atas ejekan nya dan penilaiannya. Tapi aku bangga jadi diriku sekarang. Karena aku bisa bemanfaat bagi siapa saja. Hidupku bermanafaat untuk manusia. Aku selalu digunakan manusia setiap harinya. Aku ke kotak amal masjid, aku pergi ke tangan anak yatim dan hidupku selalu berinteraksi dengan oranglain.” Bantah si seribu

Duit seratus ribu merasa lebih terhina karena dia merasa kalau dirinya jarang sekali di pakai manusia. Hidupnya jarang sekali bermanfaat untuk manusia. Dia selalu tidur di dalam dompet, bank  dan amplop para tikus kantor.

Disisi kanan, tanpa mereka sadari si sapu sedang memperhatika apa yang mereka bicarakan setelah beberapa menit sebelumya sapu itu baru saja digunakan majikan nya.

“Aku capek hidup menjadi sapu. Aku bencoi manusia. Mereka selalu bersikap semena-mena dengan ku. Mereka memanfaatkan ku tapi setelah itu jika badan ku kor mereka jarang sekali memandikanku. Aku terkadang merasa sakit karena badanku sering sekali di hempas-hempaskan dengan benda-benda keras. Aku Cuma minta perlakukan aku sebagaimana mestinya saja. Aku hanya sekedar sapu, tapi aku bangga dengan hidupku karena tanpa diriku manusia tidak akan tertolang saat memberihkan lantai mereka” gumal sapu.

Setelah menyapu si majikan berjalan menuju pintu depan rumah dan sepertinya bergegas untuk pergi keluar rumah. Diselingi dengan gerak cekatan si majikan, si lantai berbicara “Aku tidak merasa sakit kalu wajjahku selalu di injak-injak oleh para manusia. Aku tahu sekali ini adalah tuga utamaku yang harus aku kerjakan dengan ikhlas. Kasihan para majikan ku jika aku tidak diciptkan di dunia ini. Mereka tidak mempunyai tompakan dasar dimana mereka harus memijakan kaki mereka. Aku Cuma minta satu permintaan kepada manusia untuk selalu membersih kan wajah ku yang terlihat kusam. Aku butuh pembersih dan pelembab wajah.”guaman si lantai.

Sesaat setelah melapaskan pintu rumah, si majikan segera pergi ke Mall. Namun sebelumnya saat dia baru saja menutup pintu si pintu berpesan “Awww, aku sakit. Tolong jangan hempaskan badanku. Aku benci manusia yang kasar. Tubuhku sudah sering di terpa angin dan di hempaskan saat melepaskan ku keluar rumah. Ketika aku berteriak aku ingin kalian mengerti kalau aku sedang merasa kesakitan. Aku butuh istirahat. Aku membenci manusia yang mengabaikan ku. Saat meraka hendak masuk rumah aku dibuka dan  saat itu mereka lu untuk menutp ku kembali. Maaf aku merasa terganggu saat majikan ku pulang malam karena pada malah hari aku juga butuh istirahat dan aku tidak ingin bergerak. Tapi apa daya, aku tidak bisa melakukan apa-apa.”Pesan si Pintu.

^^ -.- ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s